Pendahuluan
Bab I
1.1 Latar Belakang
Perkembangan pengetahuan dan teknologi yang begitu
cepat membuat manusia harus terus belajar. Belajar akan lebih mudah apabila
akses terhadap informasi mudah diperoleh. Semakin canggihnya teknologi di
bidang komputasi dan telekomunikasi pada masa kini, membuat informasi dapat
dengan mudah didapatkan oleh banyak orang. Kemudahan ini menyebabkan informasi
menjadi semakin banyak dan beragam. Informasi dapat berupa dokumen, berita,
surat, cerita, laporan penelitian, data keuangan, dan lain-lain.
Seiring dengan perkembangan informasi, banyak pihak
menyadari bahwa masalah utama telah bergeser dari cara mengakses informasi
menjadi memilih informasi yang berguna secara selektif. Usaha untuk memilih
informasi ternyata lebih besar dari sekedar mendapatkan akses terhadap
informasi. Pemilihan informasi ini tidak mungkin dilakukan secara manual karena
kumpulan informasi yang sangat besar dan terus bertambah besar.
Suatu sistem otomatis diperlukan untuk membantu
pengguna dalam menemukan informasi. Information retrieval (IR) system adalah
sistem yang digunakan untuk menemukan informasi yang relevan terhadap kebutuhan
penggunanya secara otomatis dari suatu koleksi informasi.
1
I.2 Rumusan Masalah
IR system bertujuan untuk mendapatkan atau menemukan
kembali informasi yang sesuai atau relevan dengan kebutuhan informasi pengguna
secara otomatis. IR system yang ideal adalah IR system yang
(1)
Menemukan seluruh informasi yang relevan
(2)
Menemukan hanya informasi yang relevan saja dan tidak menemukan informasi yang
tidak relevan.
Kedua
hal di atas menunjukkan kualitas atau performansi dari suatu IR system.
Informasi yang dibutuhkan pengguna diekspresikan dalam
query. Query dapat berupa kata atau kalimat. Dengan query sebagai input, IR
system melakukan pencarian informasi di dalam koleksi informasi untuk mencari
informasi yang relevan dengan query (3).
Pencarian informasi dilakukan dengan mencari informasi
yang memuat query. Informasi yang relevan dapat diperoleh dengan menemukan
informasi yang
(1)
Memuat kata atau kalimat yang sama dengan query atau
(2)
Memuat kata atau kalimat yang bermakna sama dengan query.
Sebagai contoh, terdapat query satu kata yaitu
“pintar”. Pada point 1, informasi yang memuat kata “pandai” atau “cerdas”
dinilai tidak relevan karena informasi yang relevan adalah informasi yang
memuat kata “pintar”. Sedangkan pada point 2, informasi yang memuat kata
“pandai” atau “cerdas” dinilai relevan karena “pandai” atau “cerdas” bermakna
sama dengan “pintar”.
Makna kata sama dapat ditinjau dari dua istilah, yaitu
sinonim dan polisemi (8). Sinonim adalah istilah untuk kata yang bermakna sama.
Contoh, kata “pintar” merupakan sinonim untuk “pandai” karena “pintar” dan
“pandai” bermakna sama. Sedangkan polisemi adalah istilah untuk kata yang sama
namun maknanya berbeda. Contoh, kata “membajak” dalam “membajak sawah” dan
“membajak pesawat” merupakan polisemi karena kata “membajak” di kedua frase
sama namun mempunyai arti yang berbeda.
Salah satu metode pencarian informasi dengan melihat
kecocokan makna antara query dengan informasi adalah metode Latent Semantic
Indexing (LSI). Metode Latent Semantic Indexing diajukan untuk memperbaiki
performansi IR system dalam mencari informasi yang relevan dengan query.
Informasi yang relevan bukan hanya sama kata namun makna kata juga.
2
I.3 Tujuan Penelitian
Tujuan
yang ingin dicapai melaui penelitian ini adalah:
(1)
Mempelajari metode Latent Semantic Indexing dan proses pembangunan IR system.
(2)
Merancang dan mengimplementasikan metode Latent Semantic Indexing dalam IR
system.
(3)
Melakukan pengujian IR system metode Latent Semantic Indexing dengan
menggunakan koleksi pengujian (test collection).
I.4 Batasan Masalah
Batasan
masalah dalam tesis ini adalah
(1)
Koleksi dokumen yang digunakan untuk pengujian berupa dokumen tekstual tanpa
format. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan kebutuhan untuk mempelajari
format dokumen seperti Microsoft Word Document Format, Adobe Portable Document
Format, dan lain-lain.
(2)
Bahasa yang digunakan dalam koleksi pengujian adalah bahasa Inggris saja.
3
Bab II
PEMBAHASAN
2.1 LATENT
SEMANTIC INDEX
Mendapatkan hasil pencarian yang sesuai dengan kebutuhan dalam
suatu koleksi dokumen yang besar merupakan hal sulit. Usaha pengguna secara
manual untuk memilah-milah dokumen yang sesuai dengan kebutuhannya ternyata
sangat besar. Hasil pencarian merupakan sejumlah dokumen yang relevan menurut
sistem, namun relevansi merupakan hal yang subjektif. Pada umumnya, dokumen
dikatakan relevan dengan query apabila dokumen (1) Memuat kata atau kalimat
yang sama dengan query atau (2) Memuat kata atau kalimat yang bermakna sama
dengan query. Sebagai contoh, terdapat query satu kata yaitu “sulit”. Pada
point 1, informasi yang memuat kata “susah” atau “sukar” dinilai tidak relevan
karena informasi yang relevan adalah informasi yang memuat kata “sulit”.
Sedangkan pada point 2, informasi yang memuat kata “susah” atau “sukar” dinilai
relevan karena “susah” atau “sukar” bermakna sama dengan “sulit”. Makna kata
dapat ditinjau dari dua istilah, yaitu sinonim dan polisemi (8). Sinonim adalah
istilah untuk kata yang bermakna sama. Contoh, kata “sulit” merupakan sinonim
untuk “sukar” karena “sulit” dan “sukar” bermakna sama. Sedangkan polisemi
adalah istilah untuk kata yang sama namun maknanya berbeda. Contoh, kata
“membajak” dalam “membajak sawah” dan “membajak VCD” merupakan polisemi karena
kata “membajak” di kedua frase sama namun mempunyai arti yang berbeda. Metode Latent
Semantic Indexing (LSI) adalah metode yang diimplementasikan di dalam IR
system dalam mencari dan menemukan informasi berdasarkan makna keseluruhan (conceptual
topic atau meaning) dari sebuah dokumen bukan hanya makna kata per
kata.
4
2.2 Metode Latent Semantic Indexing Secara Keseluruhan
Secara global, alur proses metode Latent Semantic Indexing (LSI)
dapat diilustrasikan dalam gambar

Gambar Alur proses dari metode latent semantic indexing Alur
proses dari metode Latent Semantic Indexing dibagi 2 (dua) kolom, yaitu :
5
a.)
kolom
sebelah kiri yaitu query dan kolom sebelah kanan kanan yaitu, koleksi
dokumen. Pada proses sebelah kiri, query diproses melalui operasi teks,
17 kemudian vektor query dibentuk. Vektor query yang dibentuk dipetakan menjadi vektor query terpeta (mapped query vector). Dalam membentuk query terpeta, diperlukan hasil dekomposisi nilai singular dari koleksi dokumen. Pada koleksi dokumen, dilakukan operasi teks pada koleksi dokumen, kemudian matriks katadokumen (terms-documents matrix) dibentuk, selanjutnya dilakukan dekomposisi nilai singular (Singular Value Decomposition) pada matriks kata-dokumen. Hasil dekomposisi disimpan dalam collection index. Proses ranking dilakukan dengan menghitung relevansi antara vektor query terpeta dan collection index. Selanjutnya, hasil perhitungan relevansi ditampilkan ke pengguna. Dalam subbab-subbab berikutnya dibahas mengenai konsep aljabar linier elementer yang mendasari metode LSI.
17 kemudian vektor query dibentuk. Vektor query yang dibentuk dipetakan menjadi vektor query terpeta (mapped query vector). Dalam membentuk query terpeta, diperlukan hasil dekomposisi nilai singular dari koleksi dokumen. Pada koleksi dokumen, dilakukan operasi teks pada koleksi dokumen, kemudian matriks katadokumen (terms-documents matrix) dibentuk, selanjutnya dilakukan dekomposisi nilai singular (Singular Value Decomposition) pada matriks kata-dokumen. Hasil dekomposisi disimpan dalam collection index. Proses ranking dilakukan dengan menghitung relevansi antara vektor query terpeta dan collection index. Selanjutnya, hasil perhitungan relevansi ditampilkan ke pengguna. Dalam subbab-subbab berikutnya dibahas mengenai konsep aljabar linier elementer yang mendasari metode LSI.
6
2.3 KONSEP
LATENT SEMANTIC INDEX
Konsep Latent Semantic Indexing (LSI) merupakan metode IR
yang membangun struktur koleksi dokumen dalam bentuk ruang vektor dengan
menggunakan teknik aljabar linier, yaitu singular value decomposition.
35 Secara umum, konsep LSI meliputi beberapa point seperti dilustrasikan pada gambar III.1 yaitu:
35 Secara umum, konsep LSI meliputi beberapa point seperti dilustrasikan pada gambar III.1 yaitu:
(1) Text Operations pada Query dan Document
Collection.
Query dari pengguna dan koleksi dokumen dikenakan proses text
operations. Proses text operations meliputi, (i) mem-parsing setiap kata dari koleksi dokumen, (ii) membuang kata-kata yang merupakan stop words, (iii) mem-stemming kata-kata yang ada untuk proses selanjutnya.
Query dari pengguna dan koleksi dokumen dikenakan proses text
operations. Proses text operations meliputi, (i) mem-parsing setiap kata dari koleksi dokumen, (ii) membuang kata-kata yang merupakan stop words, (iii) mem-stemming kata-kata yang ada untuk proses selanjutnya.
(2) Matrix Creation.
Hasil text operations yang dikenakan pada koleksi dokumen dikenakan
proses matrix creation. Proses matrix creation meliputi, (i)
menghitung frekuensi kemunculan dari kata, (ii) membangun matriks kata-dokumen
seperti dilustrasikan pada. gambar 

Baris matriks menunjukkan kata dan kolom matriks menunjukkan
dokumen. Sebagai contoh, elemen matriks pada baris ke-1 dan kolom ke-2
menunjukkan frekuensi kemunculan kata ke-1 pada dokumen ke-2.
7
(3) SVD Decomposition.
- Dua matriks ortonormal U
dan V
- matriks quasidiagonal S
A=USVT
Dengan U € R
m x m
V € R n x n
S
= diag.... (∂1,...,∂p)
S adalah elemen diagonal
berupa nilai singular A
·
Tidak
negativ dengan urutan menurun
·
∂1,
≥ ∂2, ≥ ... ≥ ∂p dengan P= min (m,n)
Matriks S memiliki
bentuk
1.
M x n
[diag.... (∂1,...,∂p)|0m x (n-m)]
2.
M = n
[diag.... (∂1,...,∂p)]
3.
M>n [diag.... (∂1,...,∂p)
8
Penutup
Bab III
3.1 Kesimpulan Dan Saran
Dalam
tesis ini dikembangkan metode Latent Semantic Indexing untuk
Information
Retrieval System. Beberapa point yang dapat disimpulkan dalam tesis
ini
adalah
1.
Metode LSI menghasilkan performansi yang lebih baik daripada metode
vektor
dalam IR system karena metode LSI memasukkan faktor polisemi dan
sinonim
dalam komputasi metode LSI. Faktor polisemi dan sinonim
diperhitungkan
ketika proses pembentukan vektor kata-vektor kata untuk
ruang
kolom dari matriks kata-dokumen.
2.
Nilai rank yang direkomendasikan untuk koleksi dokumen ADI adalah
sekitar
60. Dengan pemilihan nilai rank sekitar 60, rata-rata NIAP
maksimum
dapat dicapai.
3.
Meskipun rata-rata NIAP maksimum dapat dicapai dengan nilai rank
sekitar
60, terdapat nilai-nilai NIAP yang sangat kecil untuk query-query
tertentu,
seperti untuk query ke-8 diperoleh nilai NIAP adalah 0.04545.
Oleh
karena itu, masih harus dilakukan studi lanjut untuk meningkatkan
nilai
NIAP untuk semua query.
Saran
untuk perbaikan metode LSI dalam tesis ini adalah
1.
Pengelolaan memori yang lebih baik sehingga banyak dokumen yang
diproses
dapat lebih banyak.
2.
Faktor normalisasi untuk dokumen perlu juga diperhatikan sehingga
dokumen
yang panjang dan dokumen yang pendek tidak dibedakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar